Beranda Harga Artikel Kontak Profile
Mengenal Istilah Egg Grading dan Dampaknya pada Harga
Bisnis & Pasar

Mengenal Istilah Egg Grading dan Dampaknya pada Harga

Jika Anda perhatikan di minimarket modern atau gudang agen besar, telur ayam sering kali dikelompokkan berdasarkan ukuran dan kualitas fisiknya. Proses pemilahan ini dalam industri peternakan dikenal dengan istilah Egg Grading. Memahami proses grading membantu para pengusaha kuliner memilih bahan baku yang paling efisien sesuai kebutuhan spesifik mereka.

Grading telur dilakukan melalui dua tahap utama: klasifikasi mutu internal/eksternal dan klasifikasi berat badan. Tahap pertama menilai kebersihan cangkang, keutuhan bentuk, dan kebersihan bagian dalam melalui peneropongan lampu. Telur dengan cangkang retak rambut atau bentuk bopeng dipisahkan dari kategori super.

Tahap kedua adalah penimbangan berat otomatis per butir. Di pasar komoditas, telur umumnya dibagi menjadi beberapa kelas ukuran:

  • Jumbo / Extra Large: Bobot di atas 65 gram per butir. Cocok untuk sajian telur ceplok hotel bintang lima atau usaha martabak.
  • Large / Standard: Bobot antara 55 hingga 65 gram per butir. Ini adalah ukuran standar pasaran yang paling banyak dijumpai.
  • Medium / Small: Bobot di bawah 50 gram per butir. Sering kali berasal dari ayam muda yang baru belajar bertelur (telur pasir).

Pengaruh grading terhadap harga sangat nyata. Telur skala seragam (graded eggs) dijual dengan harga sedikit lebih tinggi per kilogramnya karena memberikan kepastian bagi pabrik kue dan bakery. Pembeli roti membutuhkan ukuran telur yang konstan agar konsistensi adonan roti mereka tidak berubah-ubah dari hari ke hari.

Bagi konsumen eceran biasa, memilih telur curah tanpa grading ketat mungkin terasa lebih murah. Namun bagi kalangan industri profesional, membeli telur yang sudah ter-grading dari distributor seperti Amanu Group justru menghemat waktu dan biaya operasional dalam jangka panjang.

Tags Terkait: